Jakarta - Nilai-nilai kearifan lokal dari daerah turut memperkaya gerakan nasional dalam menciptakan sekolah yang rukun. Dalam acara peluncuran Gerakan Rukun Sama Teman oleh Kemendikdasmen, Bupati Maluku Tenggara, Muhamad Thaher Hanubun, hadir dan membagikan filosofi Aini Ni Ain yang dianut masyarakat di wilayahnya sebagai inspirasi membangun hubungan yang penuh kasih di lingkungan pendidikan.
Kehadiran Bupati Thaher dalam acara yang digelar Pusat Penguatan Karakter (Puspeka) Kemendikdasmen ini adalah untuk menerima apresiasi atas partisipasinya. Ia adalah salah satu dari banyak pihak yang karyanya terpilih dalam Sayembara 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (KAIH) Tahun 2025, yang menjadi bagian dari rangkaian peluncuran gerakan ini.
Sebagai mantan guru, Bupati Thaher memberikan penekanan pada kualitas hubungan antara pendidik dan peserta didik. Ia menjelaskan bahwa kedekatan emosional yang dibangun dengan tulus akan menjadi model bagi siswa dalam membangun hubungan pertemanan mereka sendiri. "Saya bekerja dengan kasih, sayang, dan cinta kepada murid-murid," ujarnya.
Baca Juga: Mensos Pastikan Pengganti Guru Sekolah Rakyat Yang Mundur Sudah Tersedia
Menurutnya, ketika guru hadir dengan sikap peduli dan penuh kasih sayang, siswa akan secara alami belajar untuk menunjukkan rasa saling menghargai dalam pergaulan sehari-hari dengan teman sebaya. Prinsip ini menjadi dasar mikro bagi terciptanya budaya sekolah yang positif dan inklusif.
Lebih mendalam, Bupati Thaher memperkenalkan filosofi Aini Ni Ain yang hidup dalam masyarakat Maluku Tenggara. Filosofi ini menjadi landasan etis dalam membangun hubungan yang penuh kasih tidak hanya antara guru dan murid, tetapi juga melibatkan orang tua. Nilainya menggambarkan rasa saling memiliki dan saling menjaga antar sesama.
"Dengan membiasakan siswa untuk peduli, hubungan antarteman dapat tumbuh lebih sehat dalam mendukung pembelajaran," jelas Bupati Thaher. Filosofi ini menekankan tanggung jawab kolektif, di mana setiap individu merasa memiliki dan bertanggung jawab terhadap kebahagiaan dan kesejahteraan orang lain di komunitasnya, termasuk di sekolah.
Pengintegrasian nilai kearifan lokal seperti Aini Ni Ain ke dalam gerakan nasional menunjukkan pendekatan yang kontekstual dan menyeluruh. Kemendikdasmen tidak hanya menyerukan nilai-nilai universal, tetapi juga membuka ruang bagi kekayaan budaya daerah untuk berkontribusi dalam pembentukan karakter siswa Indonesia.
Gerakan Rukun Sama Teman, dengan demikian, tidak hadir dalam ruang hampa. Gerakan ini diperkuat oleh nilai-nilai luhur yang sudah hidup di berbagai komunitas, seperti yang diwakili oleh filosofi dari Maluku Tenggara. Hal ini diharapkan dapat membuat gerakan lebih mudah diadopsi dan diimplementasikan di berbagai wilayah dengan latar belakang budaya yang berbeda.