Turki Dan Kolaborasi Industri Pertahanan Indonesia

, 22 Juni 2025

    Bagikan:
Penulis: Attar Yafiq
(FOTO ANTARA/Ade P Marboen)

Indo Defence 2024 yang berlangsung pada 11-14 Juni 2025 telah berjalan dengan baik. Terdapat 35 paviliun negara dan lebih dari 1.300 perusahaan dari 55 negara di lima benua yang berpartisipasi aktif dalam acara pertahanan dan militer trimatra terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara ini.

Acara internasional selama empat hari ini mengusung tema besar Kemitraan Pertahanan untuk Perdamaian dan Stabilitas Global, yang secara umum dibagi menjadi tiga kegiatan utama, yaitu pembukaan dengan sejumlah pertemuan diplomatik militer dan pertahanan, perjodohan bisnis (business matching) antara peserta domestik dan internasional, serta eksposisi kepada publik pada hari terakhir.

Sejak pertama kali diselenggarakan pada tahun 2004 hingga yang kesepuluh kali ini, Indo Defence telah menjadi salah satu barometer kekuatan pertahanan dan industri pertahanan sebagai entitas bisnis dengan nilai miliaran dolar Amerika Serikat di Asia Tenggara dan Indo Pasifik.

Sekali gelaran Indo Defence tidak dilaksanakan sesuai jadwal setiap tahun genap, yaitu pada tahun 2024 karena adanya alih kepemimpinan nasional pada bulan Oktober 2024, sehingga Indo Defence 2024 juga dapat disebut sebagai Indo Defence 2025 meskipun Indo Defence 2026 telah diumumkan akan dilaksanakan pada tahun depan sesuai dengan kalender kegiatan.

Pada Indo Defence 2024 kali ini, Turki hadir sebagai peserta terbesar yang menempati paviliun negara terbesar, dan salah satu industri pertahanan terbesar Turki yang hadir adalah ASELSAN. CEO ASELSAN, Ahmet Akyol, bersedia menerima ANTARA dalam wawancara khusus kepada tiga media massa dan blogger pertahanan.

Paviliun negara Turki ditempatkan di Hall B kompleks Pekan Raya Jakarta, yang juga dikenal dengan nama JIEX Expo di Kemayoran, di mana terdapat industri pertahanan papan atas Turki, termasuk ASELSAN, Havelsan, dan Roketsan.

"Ini adalah kelima kalinya, sehingga kami sangat senang dan puas. Dari tahun ke tahun, ekshibisi ini semakin besar. Ini menunjukkan ambisi pemerintah Indonesia terhadap industri pertahanan. Sekali lagi, kami senang hadir di sini sebagai bagian dari ekshibisi," kata Akyol.

Menurutnya, kehadiran ASELSAN dalam Indo Defence 2024 kali ini tidak hanya untuk menunjukkan eksistensi mereka, tetapi juga untuk berinteraksi langsung dengan pengguna akhir sistem yang mereka tawarkan serta untuk memenuhi berbagai persyaratan yang diungkapkan oleh pihak Indonesia.

Tahun lalu, ia menyatakan, mereka mendirikan perusahaan kemitraan dengan Indonesia dan tahun ini mereka membuka kantor perwakilan di Jakarta, yang akan berfungsi sebagai jembatan dan bekerja sama dengan 10 mitra Indonesia, beberapa di antaranya adalah BUMN di sektor pertahanan.

Sejalan dengan garis besar model postur dan kesiapan pertahanan nasional yang dituangkan dalam Minimal Essential Force (MEF) Pertahanan oleh Kementerian Pertahanan Indonesia, yang dibagi dalam tiga tahapan lima tahunan dan berakhir pada tahun 2024, terdapat empat parameter utama yang menjadi ukuran secara domestik.

Keempat parameter tersebut mencakup pengadaan sistem persenjataan trimatra, pemeliharaan dan perawatan seluruh sistem senjata tersebut, penyiapan serta penyediaan sarana dan prasarana pertahanan, serta pemeliharaan dan peningkatan profesionalisme serta kesejahteraan tentara. Parameter ini diperlukan agar pertahanan Indonesia berada pada tahap minimal, yang belum mencapai tahap optimum, yang tentunya memerlukan biaya yang sangat besar.

Dari perspektif industri pertahanan global, ASELSAN tentu sangat berminat untuk membantu Indonesia dalam mencapai target MEF yang telah diperbarui menjadi pasca-MEF, sehingga postur dan kesiapan militer serta pertahanan Indonesia secara keseluruhan dapat diperhitungkan di tingkat regional dan internasional.

Hal lain yang perlu dicatat adalah bahwa semua kekuatan fisik dan non-fisik dari organ militer Indonesia, yaitu TNI, dapat dialihkan penggunaannya untuk keperluan selain perang; termasuk saat terjadi bencana alam dan kebutuhan di sektor sipil lainnya.

Secara langsung maupun tidak langsung, Turki sebagai negara penghasil persenjataan Tier 2 —kategorisasi generasi imajiner pencapaian waktu penguasaan teknologi persenjataan, di antara kelompok ini terdapat Korea Selatan dan India— telah datang ke Indonesia dengan lebih serius sejak sekitar 4 tahun lalu untuk menawarkan berbagai sistem senjatanya untuk matra udara, laut, dan darat.

Turki dikenal memiliki rangkaian lengkap sistem senjata untuk ketiga matra, termasuk dalam menghadapi perang asimetrik dengan menggunakan drone mini yang dapat memberikan kejutan bagi lawan.

Sehubungan dengan hal tersebut, dalam upaya mencapai kemandirian industri persenjataan dan pertahanan nasional Indonesia, ASELSAN sebagai industri terkemuka di bidang persenjataan Turki bekerja sama dengan mitra-mitra domestik Indonesia.

"Pada pameran kali ini, kami menandatangani tiga kesepakatan kemitraan dengan mitra lokal (Indonesia), serta satu mitra internasional. Itulah alasan kami menandatangani tiga kesepakatan. Indonesia adalah negara dengan skala besar dalam konteks industri pertahanan dan angkatan bersenjatanya," ujar Akyol.

Dengan demikian, menurutnya, adanya mekanisme produksi bersama dan alih teknologi dapat mendukung kelangsungan kerja sama yang berkesinambungan. "Kami yakin akan hal ini. Saat ini, kami sedang berupaya untuk mengembangkan bisnis kami di berbagai bidang teknologi," tambahnya.

"Ini adalah visi kami dan kami akan terus melanjutkan hal tersebut. Kami akan meluncurkan merek-merek baru," tuturnya.

Dari perspektif Indonesia, pengadaan sistem persenjataan dari luar negeri harus memenuhi sejumlah syarat yang tercantum dalam pasal 43 UU Nomor 16/2012 tentang Industri Pertahanan, di antara syarat yang paling penting adalah kemampuan untuk melaksanakan alih teknologi, imbal dagang, kandungan lokal, offset, serta jaminan tidak adanya embargo atau hambatan dalam penggunaan sistem persenjataan yang dimaksud.

Berbagai hal yang dimaksud olehnya mencakup bisnis MRO (Maintenance, Repair, dan Overhaul), produksi, serta proyek-proyek di mana terjadi alih teknologi. "Anda akan melihat, akan lebih banyak daripada yang kami lakukan tahun lalu, yang kami lakukan tahun ini. Kita akan menyaksikan lebih banyak kesepakatan dan kegiatan lokal, berangkat dari kebutuhan dari sisi Indonesia," ujar Akyol.

Perusahaan industri pertahanan asal Turki yang dipimpinnya saat ini memiliki tiga bidang berbeda yang dikerjakan secara bersamaan, di antaranya adalah sistem komunikasi yang sedang diupayakan untuk dikerjakan di Indonesia dengan mitra lokal, sehingga dapat menciptakan banyak lapangan kerja di sektor teknologi tinggi.

"Oleh karena itu, kami berharap dapat mencapai tujuan ini dalam beberapa hari dan bulan mendatang. Jadi (industri) perlengkapan komunikasi ada di satu sisi, sementara di sisi lainnya adalah stasiun sistem kendali persenjataan untuk wahana tanpa awak," jelasnya.

Dunia mencatat adanya tren baru dalam pertempuran dan peperangan. Berbagai konflik bersenjata antarnegara di beberapa kawasan, baik yang melibatkan aktor negara maupun hibrida atau asimetrik, melibatkan wahana tanpa awak yang dapat dikendalikan dari jarak belasan ribu kilometer dari target dengan daya hancur yang sangat luar biasa dan presisi yang tinggi.

"Kami bekerja sama dengan perusahaan lain dalam hal ini. Hal ketiga adalah keluarga sistem senjata berpemandu, yang Anda ketahui, untuk UAV, jet tempur, dan lain-lain. Jadi inilah tiga prioritas kami untuk pasar domestik," tutup Akyol.

(Attar Yafiq)

Baca Juga: Rais Aam PBNU Bentuk Tim Pencari Fakta Dugaan Skandal Gus Yahya
Tag

    Bagikan:

Berikan komentar
Komentar menjadi tanggung-jawab Anda sesuai UU ITE.